Saturday, September 14, 2013

Salamku Untukmu :)

Akhirnya siang selepas dzuhur saya memutuskan untuk keluar dr kos. Iya selama di ponorogo ini saya mengalami hidup sebagai anak kos. Ini demi kelancaran sebuah karya agung saya yg lebih familiar disebut skripsi.

Tujuan utama saya keluar siang ini adalah untuk mengisi perut yg dari pagi belum terisi oleh nasi. Karena cuaca yg sangat terik dan saya tak kunjung menemukan warung yg pas dengan saya akhirnya saya berhenti di salah satu warung es teler di dekat alun alun.

Awalnya tak ada yg menarik di warung itu selain esnya yg saya anggap lucu. Es teler dengan sedikit sentuhan kacang telur. Mendadak es yg saya bayangkan kesegarannya berubah menjadi gurih. Ya karna es teler itu saya bisa senyum senyum sendiri di warung.

Sampai pada akhirnya ada dua orang anak kecil salah satu masih TK dan satu lagi seorang siswa sd mungkin kelas 2. Keduanya adalah anak pemilik warung itu. Awalnya saya fokus memperhatikan si kecil yg masih TK, dia asik sekali memainkan apapun di sekelilingnya. Tingkahnya sangat khas anak kecil. Oh ya kedua anak kecil tersebut adalah lak laki. Masih asik memperhatikan si TK itu sambil sesekali menyeruput es yg gurih di depanku, lalu tiba-tiba dikagetkan dengan si besar yg sudah SD mengobrol dg ayahnya di depan warung. Seketika si SD mengeluarkan beberapa lembar kertas yg sangat khas. Yap, lembar kertas ujian. Dan dia menunjukkan pada ayahnya hasil ujiannya. Ini yg sangat saya salut dr si SD, tak satupun hasil ujiannya dia sembunyikan walaupun hasilnya kurang memuaskan. Hingga akhirnya terjadi percakapan singkat diantara keduanya.
An: segitu nggak apa toh?
Ay: iyo nggak opo-opo le. (Iya nggak apa apa nak)
An: temenan toh pak? (Beneran pak?) *dengan tatapan penuh maaf*
Ay: *mengangguk pelan*

Jelas dari tatapan ayahnya memperlihatkan sedikit gurat kecewa tp tak beliau tunjukkan pada anaknya. Entah karena masih berada di warung atau karena beliau menghargai sikap anaknya yg telah berani menunjukkan hasil ujiannya.
Saya pikir sih bapaknya sangat menghargai anaknya karena setelah percakapan itu dg bebas membiarkan anaknya bermain sepedanya. Bukan sifat arogan seorang bapak yg seringkali dikeluarkan ketika anak lelakinya membuatnya kesal. Dengan senyumnya beliau melepas anaknya bermain sepeda.

*Saya bangga sama kamu dek. Semoga kamu terus seperti ini dan menjadi lebih baik.
Salamku untukmu yg sebenernya kita tidak pernah saling tahu. :)

Getting older?

Yap, menurut perhitunganku hari ini tepat 55 hari menjelang umurku yg ke-22. Menurutku dan menurut survey kecil kecilan yg aku lakukan umur 22 sepertinya bukan umur yg dibilang masih remaja ataupun tua. Oke ini adalah fase dewasa. Kalo orang bila dewasa itu pilihan aku kurang setuju sih. Makin hari aku makin berpikir kalo dewasa adalah sebuah pilihan maka akan banyak yg menunda untuk dewasa. Oke kenapa aku bilang banyak yg menunda karna mereka masih terlalu nyaman dengan fase remaja ato bahkan fase kekanakannya. Menurutku dewasa itu tuntutan.

Widiiih sok banget ih aku bilang dewasa adalah tuntutan :D
Jadi gini coba deh dipikir lagi. Kalian semua bakal ngalamin yg namanya bertambah umur. Ehmmm maksudnya waktu di dunia yg semakin berkurang. *sama aja kali-_-*
Nah ketika kalian di umur umur yg seharusnya kalian udah bisa berpikir dewasa tp kalian masih terjebak dalam fase remaja ato kekanak kanakan kalian dan di saat tertentu kalian harus dihadapkan pada sebuah situasi yg memaksa kalian berubah pada fase dewasa. What should you do? Act like child, teen, or old?

Ya aku sadar dan wajar sih, asli enak banget nggak jadi dewasa. Kalian bisa ngapain aja dan nggak repot repot mikir "kalo aku nanti nglakuin ini trus gimana ya? Efeknya apa ya? Aduh ngaruh sama idupku nanti nggak ya?"
Yakin deh kalo masih remaja gitu nggak bakal mikir sejauh itu yg penting seneng aja bawaannya.

Tapi akan berbeda ketika kalian udah seharusnya menjadi dewasa tapi kalian secara diam diam dan sengaja menolak menjadi dewasa. Dan dengan alasan dewasa itu pilihan. Dan ini kalimat yg cukup sering aku denger "ya kan dewasa itu pilihan. Ntar juga ada saatnya kita berubah"
Meeeen nunggu momen sampe kapan buat jadi dewasa.

Lalu kenapa dewasa adalah sebuah tuntutan? Yap karna semakin hari seseorang akan semakin memiliki tanggung jawab. Yap dan makin lama tanggung jawab itu semakin besar. Lalu untuk tanggung jawab yg besar apa mungkin seorang tua dlm fase remaja ato kekanak kanakan bisa memikul dan menyelesaikannya?

"We always getting older not to be younger. Young is your cover and to be old and wise is your content."